Minggu, 19 Maret 2017

Bahaya Obsesi Kurus

Bahaya Obsesi Kurus

Bahaya Obsesi Kurus
Valeria Levitin. [foto/freshtildeathtv.com]
Reporter: Alexander Haryanto
18 Oktober, 2016dibaca normal 3:30 menit
Anoreksia adalah penyakit yang ditandai dengan gejala seperti menurunnya berat badan, jumlah darah abnormal, insomnia, hingga kulit mengering. Penyakit ini biasanya dipicu oleh depresi berlebihan, sulit menangani stres, khawatir akan masa depan, menjalani program diet super ketat, hingga terobsesi memiliki tubuh kurus berlebihan.
tirto.id - Valeria Levitin begitu terobsesi menjadi model. Ia pun berdiet ketat agar penampilannya bisa sempurna. Bertahun-tahun ia menjalani diet ketat. Hasilnya ternyata bukan tubuh yang sempurna tetapi malah mengerikan. Wajahnya bertambah tua, keriput, menghitam dan sangat kurus. Berat badannya yang semula 63 kg turun drastis menjadi 25 kg. Kondisi yang demikian memilukan ini membuat Valeria harus bertarung melawan sepi selama bertahun-tahun.

Anoreksia benar-benar menyapu habis sisa-sisa kecantikannya dan mengubahnya seperti tengkorak berjalan. Valeria akhirnya menyadari kesalahannya. Ia pun kini mulai rajin membagi pengalamannya. Meski kondisinya telah rapuh dan ringkih, Valeria tetap bersemangat, terutama dalam membagikan pengalamannya kepada seluruh wanita di dunia agar tak merasakan derita yang ia alami.

Kisah sedih Valeria ini bermula dari kekhawatiran sang ibu terhadap tubuhnya yang terus tumbuh subur. Ibunya resah jika anak semata wayangnya harus tumbuh menjadi wanita gemuk dan buncit seperti kerabatnya. Melihat kondisi itu, ibunya meminta Valeria untuk menjalani program diet.

Hasrat dietnya semakin bertambah setelah mendapat hinaan dari teman sekelas karena bobotnya yang mencapai 63 kg. Saat itu, ia dan keluarganya baru saja pindah ke Chicago. Di sekolah barunya, Valeria menjadi terasing dan kurang disukai oleh teman-teman barunya lantaran bentuk tubuhnya yang kurang ideal di mata teman-temannya. 

Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan: "Kami sedang bermain sepak bola dan selama pertandingan seorang pria berkata, 'Aku tahu bagaimana kita bisa menang. Kita perlu menempatkan Valeria yang besar ini di gawang' Ini menghancurkan seluruh dunia saya..,” kata Valeria kepada Daily Mail.

Sejak saat itu, ia mulai mengurangi gula dan karbohidrat guna menghilangkan sebagian lemak di badannya. Menginjak usinya yang ke-23, ukuran bajunya menurun drastis dan ia semakin akrab dengan timbangan badan.

Meski berat badannya telah menyusut, Valeria belum puas. Apalagi setelah memutuskan untuk menjadi model, ia diminta untuk menurunkan berat badannya karena masih dianggap terlalu gemuk. Valeria semakin bergairah menjalani program dietnya.

Alhasil, saat usianya mulai genap 24 tahun, badannya telah menurun drastis hingga mencapai 38 kg. Alih-alih mendapatkan karier yang cemerlang, Valeria justru dilarang ikut menari karena khawatir membahayakan kondisi fisiknya. 

Selama sepuluh tahun berikutnya, kondisi Valeria menjadi semakin memprihatinkan, badannya semakin renta, wajahnya keriput dan mirip seorang jompo. Tubuhnya menolak makanan-makanan tertentu dan hanya bisa memakan roti selama hidupnya.

Anoreksia membuatnya begitu kesepian, ia menjadi penyendiri selama satu dekade. Penyakit ini juga membuat kehidupannya semakin sulit karena tak bisa melakukan hal-hal normal seperti berkencan dan makan di restoran. Impiannya untuk memiliki keluarga dan anak telah sirna. 

Meskipun telah mendatangi 30 ahli spesialis kesehatan, Valeria tak kunjung mendapatkan perubahan. Ia mustahil bisa sembuh. Meskipun demikian ia mengaku tak ingin pasrah dan menyerah.

"Aku ingin berdiri untuk anoreksia. Aku tidak pernah menyerah pada apapun dalam hidup saya dan saya tidak akan menyerah sekarang.”

Ia semakin semangat berbagi setelah mendapatkan banyak surat yang menjadikannya sebagai inspirasi. Valeria justru ingin mereka semua mengambil pelajaran dari kesalahannya.

"Semua surat yang aku punya adalah dari perempuan, terutama di usia dua puluhan, yang melihat saya sebagai semacam inspirasi. Ini adalah mengapa saya ingin kampanye melawan anoreksia. Saya tidak akan mengajarkan mereka bagaimana untuk mati. Ini bukan permainan, itu bukan lelucon, itu adalah hidup Anda.” katanya kepada The Sun.

Valeria tidak sendiri, mantan aktris asal California, Rachael Farrokh juga menderita penyakit yang sama. Ia bahkan nyaris meninggal karena berat badannya yang hanya mencapai 18 kg. Ia bahkan telah bertahan selama 10 tahun tanpa perawatan medis. 

Ketika kondisinya kian memburuk, sang suami Rod Edmondson memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena ingin mengurus Farrokh selama 24 jam.

Farrokh sempat depresi, berbagai rumah sakit menolak merawatnya, hingga akhirnya ia membagikan kisah pilunya melalui video yang diunggah di YouTube. Melalui cara ini, Farrokh berhasil menyentuh ribuan bahkan jutaan hati manusia. Mereka tergerak memberikan sumbangan dan berhasil mengumpulkan bantuan sebesar 200.000 dolar AS atau setara dengan Rp2,6 miliar. 

Setelah berjuang melawan penyakit mental selama bertahun-tahun, Farrokh akhirnya mendapat perawatan pertama di sebuah rumah sakit yang tak begitu jauh dari rumahnya di California dan kemudian ia dipindahkan ke sebuah klinik di Portugal, dimana ia mendapat sedikit kemajuan atas kondisinya.

"Saya akhirnya diperlakukan dengan hormat, dan saya tidak tahu bahwa saya layak mendapatkannya," katanya sewaktu berada di klinik Portugis

Dr. M. Duarte, selaku dokter medis yang menangani Farrokh mengatakan bahwa Farrokh telah berjalan selama 15 menit sehari untuk secara bertahap membangun kembali otot-otot kaki guna meningkatkan keseimbangannya.

Penyakit apakah anoreksia itu?

Dikutip dari Daily Mail, Anoreksia adalah gangguan pola makan yang ditandai dengan menurunnya berat badan karena rasa takut yang berlebihan atas kenaikan berat badan. Para penderita biasanya memiliki persepsi yang menyimpang atas kondisi ideal tubuh mereka. 

Selain itu, mereka juga akan membatasi jumlah makanan atau jumlah kalori yang mereka konsumsi. Penyakit ini juga bisa menyerang kepada siapa saja yang mencoba menurunkan berat badan dengan melakukan olahraga yang berlebihan.

Gejala penyakit ini biasanya ditandai dengan turunnya berat badan yang sangat drastis, jumlah darah yang abnormal, kelelahan, insomnia, pusing, rambut mudah pecah, kurangnya menstruasi (pada wanita) dan kulit kering.

Bahaya Obsesi Kurus

Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun menurut laporan NHS, ada beberapa indikator yang menjadi pemicu antara lain:

Faktor psikologis: seperti kecenderungan mengalami depresi, cemas, sulit menangani stres, khawatir yang berlebihan akan masa depan, menjalani program diet yang ketat, susah mengendalikan emosional hingga memiliki obsesi yang berlebihan dan paksaan untuk memiliki tubuh yang kurus.

Faktor lingkungan: seperti kecenderungan dalam budaya barat yang menilai seorang wanita ideal dan cantik adalah mereka yang memiliki tubuh kurus. Selain itu, majalah dan surat kabar juga sangat berperan karena sering memberitakan tentang ketidaksempurnaan fisik ringan seperti tubuh yang gemuk dan memiliki selulit.

Faktor lingkungan lain yang mungkin berkontribusi terhadap anoreksia meliputi: tekanan dan stres di sekolah, intimidasi, khususnya tentang berat badan atau bentuk tubuh ideal. Selain itu, pekerjaan atau hobi (menari atau atletik) juga dapat berpengaruh, dimana sesuatu yang kurus dipandang sebagai bentuk yang ideal.

Faktor biologis dan genetik: Perubahan fungsi otak atau kadar hormon juga dimungkinkan memiliki peran dalam memicu anoreksia. Seperti memengaruhi bagian otak yang mengontrol nafsu makan yang dapat menyebabkan perasaan cemas dan rasa bersalah ketika sehabis makan.

Sementara menurut laporan Mirror Mirror Eating Disorder, sekitar 1 persen remaja perempuan memiliki kesempatan untuk mengidap anoreksia dan yang paling umum di sekitar waktu yang sama seperti pubertas. 

Selain itu, Anoreksia juga memiliki angka kematian tertinggi dari setiap penyakit mental lainnya. Sebuah studi pada tahun 2003 menemukan bahwa orang dengan anoreksia memiliki 56 kali lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri dibandingkan non-penderita. 

Melihat betapa mengerikannya anoreksia menggerogoti tubuh, ada baiknya para wanita maupun pria berhati-hati dalam menjalani program diet, sehingga tidak terjebak seperti Valeria dan Farrokh.

"Saya ingin orang-orang muda hidup bahagia, sehat dan bermakna. Anoreksia membuat saya kesepian, tidak menarik dan menjijikkan bagi orang-orang di sekitar saya," kata Valeria sekali lagi. 

Asal-Usul Pola Makan Tiga Kali Sehari


Di era setelahnya, pola makan terpengaruh oleh pesatnya tingkat religiusitas di Eropa dan mulai ada kebiasaan untuk makan di jam-jam pagi—meski tak sepagi sekarang. Jelang abad 17, dipercaya masyarakat Eropa dari segala kelas sosial makin terbiasa sarapan di jam yang lebih awal dari sebelumnya. Semuanya bermula dari kebiasaan orang kaya di Inggris. Hingga tahun 1740-an, mulai muncul ruangan khusus sarapan di rumah-rumah bangsawan Eropa.

Revolusi Industri di Inggris pada pertengahan abad 19 mengubah masyarakat menjadi lebih modern. Salah satu ciri modernitas adalah gaya hidup yang terstruktur alias berpola. Untuk urusan sarapan juga demikian. Para pekerja dipatok jam kerja yang ketat, maka mereka membiasakan sarapan untuk mengisi tenaga sepanjang hari. Semua pekerja melakukannya tanpa kecuali, bahkan bos-bos mereka.

Pada 1920 dan 1939, pemerintah negara-negara di Eropa—yang kemudian menyebar ke Amerika Serikat dan negara lain—mulai mempromosikan pentingnya sarapan, namun Perang Dunia II membuat akses menuju sarapan amat susah. Keadaan kembali normal dan masyarakat dunia bisa kembali mengakses sarapan dengan layak usai PD II selesai. Di Eropa dan AS sendiri, sarapan dengan menu kopi instan, roti tawar, dan sereal mulai populer.

Beralih ke makan siang, salah satu teori lahirnya kata “lunch” diyakini berasal dari kata Anglo-Saxon lawas “nuncheon” yang berarti “makan cepat di antara dua waktu makan dengan sesuatu yang bisa kamu pegang di tangan”. Menurut Yeldam kebiasaan ini dilestarikan hingga akhir abad 17. Teori lain berkata bahwa “lunch” berasal dari kata “nuch” yang digunakan sekitar abad 16 dan 17 untuk menyebut roti berukuran besar. 

Namun, di antara sekian teori, kebiasaan rakyat Perancis untuk “souper” di abad ke-17 lah yang membentuk apa yang hari ini kita sebut makan siang. Kala itu rakyat Perancis untuk makan makanan ringan saja di kala malam sehingga makan berat dialihkan ke waktu siang. Kebiasaan modis ini kemudian diterapkan oleh bangsawan Inggris dan menyebar ke rakyat jelata. 

Revolusi Industri juga berpengaruh. Pola makan rakyat kelas menengah dan bawah didefinisikan oleh jam kerja. Banyak pekerja yang menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk membanting tulang, sehingga makan siang adalah sesuatu yang sama pentingnya dengan sarapan. Meski waktunya mepet, mereka akan tetap mengusahakannya. 

Kebiasaan ini melahirkan produksi dan penjualan kue pie di sekitar pabrik. Pie, dan makanan cepat saji lain, akhirnya menjadi menu favorit karena tak mungkin para pekerja mengandalkan menu “slow food” di tengah beban kerja yang berat.

Akibat kebiasaan yang demikian populer, pada abad ke-19 restoran-restoran dengan menu beragam muncul. Para pekerja, berkat perjuangan aktivis buruh, juga disediakan waktu jam makan siang selama satu jam. Namun perang dunia yang pecah di tahun 1939 membuat pola makan siang agak terganggu. 

Pasca-perang, era 1950-an, kafe semakin banyak. Produksi roti, terutama untuk makan siang, semakin besar sehingga harganya juga makin murah. Proses produksi ini disebut dengan istilah “The Chorleywood Process.” Roti isi kemudian populer untuk makan siang, terutama yang bisa dibeli cepat dan dibawa ke tempat kerja. Dahulu berbeda seperti sekarang. Meski harus lanjut kerja, dulu para pekerja masih santai saat menyantap makan siang. Kini, dengan persaingan dan beban kerja yang makin intens, semua terasa makin terburu-buru.

Saat pekerja kelelahan usai bekerja seharian, sore menjelang malam menjadi waktu yang tepat untuk mulai beristirahat. Kondisi lelah inilah yang kemudian memunculkan kebiasaan makan malam. Kebiasaan “full meal” dianggap hadiah yang pantas dinikmati usai seharian mencari nafkah. Malam juga waktu yang tepat untuk keluarga berkumpul, sehingga mulai era 1950-an, mulai ada kebiasaan untuk makan malam bersama keluarga.

Asal-Usul Pola Makan Tiga Kali Sehari


Makan Berat No, Ngemil Yes

Menurut profesor sekaligus sejarawan dari Yale University, Paul Freedman, kebiasaan makan sehari tiga kali lebih untuk urusan sosial-budaya ketimbang biologis. Editor buku Food: The History of Taste itu berkata kepada HowStuffWorks bahwa munculnya pola makan tiga kali sehari sesederhana karena orang-orang nyaman dengan kebiasaan ini.

Namun, kebiasaan makan tiga kali sehari juga lambat-laun mengalami perubahan saat masyarakat makin modern, kata Freedman. Mereka musti menyesuaikan diri dengan “jadwal modern.” Orang-orang modern rata-rata memiliki jam kerja yang tinggi dan waktu senggangnya diisi dengan olahraga maupun mengkonsumsi gajet. Kondisi ini mengacaukan jadwal makan tiga kali sehari, digantikan dengan “makan selaparnya.”

Pendapat Freedman didukung oleh hasil riset Euromonitor International yang dipublikasikan pada 2011 lalu. Menurut riset ini, dalam beberapa dekade terakhir terdapat perubahan jadwal makan tiga kali sehari. Jadwal menjadi lebih fleksibel. Faktor penyebabnya adalah gaya hidup yang supersibuk, jam kerja yang melebihi beban normal, makin populernya gaya hidup melajang, dan meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja.

Sekarang makan didikte oleh pekerjaan dan aktivitas penyegar pikiran ketimbang mengaturnya sesuai jam karena, misalnya, kebutuhan atas alasan kesehatan. Survei Euromonitor mengungkap bahwa jam makan yang fleksibel dilakukan oleh orang-orang di Brazil, Inggris, dan AS. Sementara, orang-orang di Cina, Perancis, maupun Jepang masih berusaha untuk mempertahankan pola makan yang terstruktur.

Dampak dari gaya hidup ini, sebagaimana juga disampaikan Freedman, adalah orang-orang menjadi lebih suka ngemil alias makan camilan. Pertumbuhan pesat industri camilan muncul di Brasil, Cina, dan India. Orang India, misalnya, senang telat makan siang dan makan malam (41 persen makan siang pukul 14.00-15.00 dan 63 persen makan malam pukul 20.00-21.00), namun juga gemar makan camilan sepanjang hari.

Akibat kebiasaan makan terlalu dini, separuh responden Cina makan camilan usai makan malam pada pukul 20.00-21.00. Warga Brasil melakukannya pada pukul 22.00-23.00. Sementara itu, cara makan camilan orang Perancis dan Inggris lebih diatur jamnya. Sebanyak 41 persen warga Inggris makan camilan pukul 10.00-11.00, sedangkan warga Perancis pukul 16.00-17.00.

Dunia modern juga berpengaruh pada kebiasaan makan berat. Warga dunia semakin terburu-buru untuk sarapan. Kebiasaan makan makanan kemasan, makanan cepat saji atau sekedar kue-kue dengan cara “on to go” makin populer. Di sisi lain, kebiasaan makan siang semakin dihindari akibat tekanan kerja yang makin tinggi. 

Alih-alih menyantap makanan di kantin atau restoran, sebagian orang kini terbiasa makan siang di meja kerja. Alasannya, tentu saja, agar lebih efektif dalam memanfaatkan waktu. 

Asal-Usul Off The Wall dari Vans

Asal-Usul Off The Wall dari Vans

Asal-Usul Off The Wall dari Vans
Proses pembuatan sepatu Vans pada tahun 1966. Foto/footwearnews.com
Reporter: Arman Dhani
10 Maret, 2017dibaca normal 3:30 menit
Akhirnya Vans menjelaskan makna Off The Wall yang selama ini dianggap misterius.
tirto.id - Tanggal 16 Maret mendatang akan menjadi penanda usia 51 tahun berdirinya salah satu merk sepatu paling berpengaruh di dunia. Bertempat di jalan 704E Broadway, Anaheim, California, Paul Van Doren dan tiga rekannya membuka toko pertama yang kelak akan dikenal sebagai Vans. 

Perusahaan Van Doren Rubber menjadi unik saat itu karena menjadi perusahaan sepatu yang menjual produknya langsung setelah dibuat di pabrik. Pagi itu, saat pertama kali toko dibuka, 12 orang membeli sepatu dari Van Doren, sepatu yang disebut sebagai The Vans #44, yang saat ini disebut sebagai Vans Authentic.

Steve Van Doren, putra dari Paul Van Doren, pada 2008 lalu menyebut bahwa Vans menjadi besar karena keberuntungan yang tidak terduga. Pada mulanya, salah seorang karyawan Van Doren melihat desain sepatu yang dibuat oleh anak SMA, ia menyarankan agar desain itu dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan tersebut. Saat itu sebuah perusahaan film tengah mencari sepatu untuk properti film Fast Times at Ridgemont High yang dibintangi oleh Sean Penn. 

“Lantas [sepatu itu] menjadi fenomena,” kata Van Doren. “Kami membuatnya dalam berbagai warna dan kombinasi yang bisa kami pikirkan.”

Sepatu yang dipakai Sean Penn adalah Vans tipe slip on bergambar kotak-kotak catur dengan kotak berlogo Off The Wall. Sepatu itu menjadi fenomenal kembali karena dipakai oleh bintang-bintang rock besar seperti Iron Maiden, Foo Fighters dan The Ting Tings. Banyak kelompok anak muda dari berbagai komunitas seperti seniman, pekerja kreatif, hingga anak band menggunakan sepatu Vans. Namun, Vans menjadi sangat besar karena banyak atlet papan luncur (skateboard) profesional yang menggunakan sepatu ini sebagai pilihan mereka.

Vans tentu menjadi salah satu merek sepatu paling penting yang ada di sneaker culture. Tampilannya yang sederhana, enak dipakai, dan nyaris sangat murah membuat sepatu ini banyak disukai. Bagi para kolektor Vans menjadi sepatu penting karena banyak seniman atau perusahaan street wear yang berkolaborasi dengan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir keuntungan mereka meningkat, pada 2015 memperoleh keuntungan dua miliar dolar, dan disebut-sebut sebagai merek yang paling banyak digunakan oleh milenial.

Beberapa pesohor terkenal seperti Samuel L. Jackson dan Kanye West disebut menjadi penggemar Vans. Kanye sendiri menyebut ia kadang memakai Yezzy (sepatu yang dibuat kolaborasi bersama Adidas), kadang merasa ingin memakai Vans. 

Ia menjadi perhatian publik ketika menggunakan Vans Half Cab sampai-sampai dirumorkan akan pindah kerja sama dengan perusahaan itu. Samuel L. Jackson malah pernah dibuatkan desain khusus Vans slip on saat ia membintangi film Snakes on The Plane yang mendorong penjualan slip on setelahnya.

Asal-Usul Off The Wall dari Vans

Fashion dengan pengaruh subkultur skateboard menjadi sesuatu yang dianggap keren: celana gombrong, hoodie, dompet berantai, topi truk, kaos kegedean. Vans menjadi salah satu merk yang hadir paling awal merespons ini. Mereka menggunakan bahan karet untuk membuat sepatu yang nyaman dipakai saat bermain skateboard. Penampilan yang bagus, sederhana, dan tidak rumit membuat Vans bisa digunakan untuk segala suasana. 

Salah seorang atlet skateboard legendaris, Steve Caballero, menjadi ikon penting yang dikenal karena Vans membuat sepatu khusus yang didesain untuknya dikenal sebagai Half Cab. Steve Van Doren mengaku bahwa usaha untuk mengembangkan Vans lahir dari mendengarkan masukan anak-anak muda tentang apa yang keren dan apa yang bagus. 

“Sebenarnya anak-anak gaul yang memberitahu kami harus bagaimana, saat mereka pergi ke sekolah dan melihat apa yang dipakai anak-anak lain,” katanya. 

Vans bukan sekedar sepatu, ia menjadi gaya hidup. Pada satu titik, kolektor memburu dan mengoleksi proyek-proyek kolaborasinya, seperti bersama Supreme, Golf Wang, Taka Hayashi, Pendleton, dan masih banyak lainnya. 

“Beberapa brand dikenal karena asosiasi mereka dengan gaya hidup. Kami lebih West Coast daripada East Coast, yang punya tendensi lebih kuat daripada Converse. Kami lebih olahraga solo daripada olahraga tim yang dimasuki merek atletik besar seperti Nike. Kami lebih rock dan punk ketimbang hip-hop, di mana brand lain masuk. Tapi yang jelas kami adalah skateboarding,” kata Van Doren.

Vans punya akar panjang dalam kancah skateboard. Mereka ada di seluruh bagian California Selatan pada awal 1970an. Lantas pada 1975, Vans #95 dibuat yang saat ini dikenal sebagai Vans Era dan didesain oleh legenda skateboard dunia Tony Alva dan Stacy Peralta. Dengan berbagai warna kombinasi Era menjadi satu sepatu paling penting di antara atlit dan penggemar skateboard. Fenomena Vans menyebar pada akhir 70an di mana saat itu gerai sepatu ini ada di 70 titik di California. 

Namun, kesuksesan ini membuat Vans tidak fokus dalam berbisnis. Pada 1980an mereka membuat desain sepatu untuk baseball, basket, gulat hingga penari breakdance sebagai usaha untuk berkompetisi dengan perusahaan sepatu lain. Hingga pada akhirnya dana mereka kehabisan untuk promosi yang tidak diikuti dengan lakunya produk. Pada 1983 Vans mengumumkan kebangkrutan. Saat kembali fokus pada akar mereka di jalanan dan skateboard, dalam rentang waktu tiga tahun Vans bisa melunasi seluruh hutangnya. 

Vans memulai pembangunan pabrik di negara asing sejak 1994, memberikan ruang untuk jenis sepatu dan kolaborasi baru. Lantas pada 1998 merek membuka untuk pertama kalinya, studio skate indoor seluas 46 ribu kaki di Orang County. Capaian ini terus berkembang hingga pada 2000 dan 2001 Vans disebut sebagai perusahaan kecil terbaik Amerika. Untuk mengingat kejayaan ini, pada 2001 Vans memproduseri film Dogtown and Z-Boys, bersama Stacy Peralta. Film ini menjelaskan bagaimana akar Skateboard menjadi penting bagi Vans dan subkultur anak muda Amerika. 

Salah satu misteri yang banyak ditanyakan oleh para penggemar Vans adalah makna dari Off The Wall yang jadi ciri khas mereka. Jika Anda sempat menonton Dogtown and Z-Boys, Anda mungkin ingat fragmen cerita di mana beberapa anak bermain di kolam kosong yang airnya dikeringkan. Salah seorang dari mereka memanfaatkan kolam itu untuk bermain skateboard. Ada adegan penting dalam film itu, yakni saat skateboarder memanfaatkan momentum untuk “menghempaskan diri lepas dari tembok” atau "Off The Wall."

Sayangnya, tidak banyak yang tahu adegan film dokumenter buatan Stacy Peralta ini. Vans sendiri telah menggunakan frasa “Off The Wall” sejak akhir 60an, sementara gaya skate Off The Wall baru muncul pada 1970an. Brand President vans, Doug palladini, menyebut bahwa Off The Wall kini bukan lagi tentang subkultur skateboard. Ia telah berkembang menjadi cara pandang dan pola pikir. Vans kini berusaha menjadi ikon anak muda global, dan Off The Wall pun mengalami pergeseran makna.

Palladini menyebut bahwa Vans dengan mentalitas Off The Wall kini berusaha untuk tak lagi tunduk pada trend. “Kami terbuka pada siapapun, tapi kami tidak mengikuti siapapun,” katanya. Vans berusaha menyerahkan kepada para penggunanya untuk mengambil kembali makna Off The Wall. 

Perut Keroncongan, Hindari Dulu Lima Santapan Ini

Perut Keroncongan, Hindari Dulu Lima Santapan Ini

Perut Keroncongan, Hindari Dulu Lima Santapan Ini
Secangkir kopi dan kopi biji di atas meja kayu. Foto/Istock
Reporter: Yuliana Ratnasari
13 Maret, 2017dibaca normal 0:30 menit
Kondisi perut keroncongan kerap membuat makan terlalu banyak sehingga menyantap camilan menjadi salah satu pilihan. Meski begitu, ada camilan dan santapan yang sebaiknya dihindari jika perut sedang kosong.
tirto.id - Perut keroncongan kerap membuat kita makan membabibuta. Bahkan jika makan terlalu sedikit atau melewatkan waktu makan bisa membuat kita makan terlalu banyak. Kondisi itu akhirnya membuat kita memilih menyantap camilan tinggi kalori.

Meski bukan berarti tidak boleh nyemil, makan apa saja yang ada di depan kita juga tidak baik. Dikutip dari Antara, makanan dan minuman berikut ini bukan santapan yang tepat saat perut keroncongan. Sebab, hanya akan membuat kita lebih lapar serta mengiritasi perut kosong.

1. Keripik
Saat makan camilan asin seperti keripik, makanan itu hanya memuaskan salah satu bagian dari lambung. Akibatnya, Anda malah ketagihan dan tidak ingin berhenti makan.

2. Jus jeruk
Minuman ini meningkatkan kadar gula darah dan memberi rasa kenyang sesaat.

3. Makanan pedas
Ini memicu iritasi pada sistam percernaan dan lapisan lambung.

4. Kopi
Kopi membuat lambung memproduksi lebih banyak asam dan meningkatkan peradangan pada lapisan lambung.

5. Soda diet
Minuman ini mengandung pemanis buatan dan tidak mengenyangkan perut Anda. Jadi lebih baik jangan konsumsi ini sebelum makan. 

Konsumsi Buah dan Sayur Turunkan Risiko Stres

Konsumsi Buah dan Sayur Turunkan Risiko Stres

Reporter: Maya Saputri
17 Maret, 2017dibaca normal 1 menit
Konsumsi Buah dan Sayur Turunkan Risiko Stres
Ilustrasi anak-anak tidak menyukai sayuran. FOTO/istock
tirto.id - Konsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan dapat menurunkan risiko terkena stres, terutama pada perempuan, menurut sebuah studi dalam jurnal BMJ Open. 

Dalam studi itu, peneliti dari University of Sydney di Australia menemukan bahwa orang-orang yang mengonsumsi tiga hingga empat porsi sayuran atau buah-buahan per hari, 12 persen lebih rendah mengalami stres ketimbang mereka yang samasekali tak mengonsumsi salah satu atau kedua makanan itu. 

Sementara itu, bila orang-orang menambah porsi sayuran atau buah-buahannya, menjadi 5-7 porsi, maka peluang terkena stres bisa turun hingga 14 persen. Pada perempuan bahkan risikonya bisa menurun 23 persen. 

Kendati begitu, konsumsi lebih dari tujuh porsi buah dan sayuran setiap hari tidak berhubungan dengan penurunan risiko stres. 

Temuan ini peneliti dapatkan setelah menganalisis 60.404 laki-laki dan perempuan, yang menjadi bagian dari sebuah studi skala besar - Sax Institute' 45 dan Up Study di Australia.

Mereka lalu mengukur asupan buah dan sayuran para partisipan pada tahun 2006, 2008 dan 2010, serta tekanan psikologis yang mereka alami menggunakan kuesioner yang menilai gejala kecemasan dan depresi.

"Konsumsi buah dan konsumsi sayuran dapat membantu mengurangi prevalensi tekanan psikologis pada orang dewasa setengah baya dan lebih tua. Namun, hubungan antara konsumsi kedua makanan itu dan kejadian tekanan psikologis memerlukan penyelidikan lebih lanjut," ujar salah satu peneliti, Binh Nguyen. 

Stres umumnya ditandai dengan hadirnya rasa marah dan cemas. Kondisi ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik penderitanya. Studi menunjukkan stres kronik (berkepanjangan) meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan diabetes, demikian seperti dilansir Medical News Today

Ironi Bojonegoro

Ironi Bojonegoro

Ironi Bojonegoro
Warga mengumpulkan minyak mentah di penambangan minyak rakyat di Wonocolo, Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (23/7). ANTARA FOTO/Zabur Karuru.
Reporter: Arief Hermawan
13 Maret, 2017dibaca normal 2:30 menit
Bojonegoro berlimpah minyak. Sayangnya, "berlimpah" kemiskinan dan pengangguran. Harus ada cara untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang dimiliki.
tirto.id - Bojonegoro kini menjadi primadona baru setelah pudarnya pesona Riau sebagai penghasil minyak utama Indonesia. Bojonegoro menjadi incaran setelah ditemukannya lapangan Banyu Urip Blok  Cepu yang merupakan lapangan minyak terbesar di Indonesia saat ini. Sebanyak 2/3 Blok Cepu berada di wilayah Bojonegoro.

Potensi potensi minyak mentah diperkirakan lebih besar dari data yang ada. Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi saat mendampingi Menteri ESDM Ignasius Jonan berkunjung di Blok Cepu, 27 Januari 2017 lalu menyatakan, penelitian terbaru cadangan minyak mentah lapangan Banyu Urip sekitar 520 juta barel dan ada kemungkinan cadangannya sekitar 729 juta barel.

Artinya jika puncak produksi 185 ribu barel per hari yang dicapai tahun 2016, maka cadangan minyak itu akan habis sekitar 11 tahun jika benar mencapai 729 juta barel. Ini tentu bukan waktu yang lama untuk menikmati surga sebagai “Kabupaten Petro Dolar”. Jika tidak bisa memanfaatkan sumber dayanya secara optimal, bukan tidak mungkin Bojonegoro akan mengalami kondisi seperti daerah lain yang kaya sumber daya tetapi terbelit kemiskinan dan pengangguran. 

Bojonegoro perlu berkaca dengan yang terjadi di Riau. Cadangan minyak menipis, tetapi hasilnya belum mampu menjadikan Riau sebagai daerah yang makmur. Hal ini nampak dari indikator pengangguran terbuka di Riau pada 2015 yang mencapai 7,38 persen atau lebih tinggi dari rata-rata pengangguran terbuka nasional sebesar 6,18 persen. Angka pengangguran di Riau adalah terburuk kedua di Sumatera. Begitu pula pada indikator penduduk miskin yang pada tahun 2015 juga meningkat menjadi 8,82 persen. Angka ini memang lebih baik dari angka kemiskinan nasional yang mencapai 11,13 persen pada 2015.

Terbelit Kemiskinan dan Pengangguran

Bojonegoro sendiri kini kondisinya masih nyaris tak berbeda dengan Riau. Kota yang dikenal dengan sebutan “Laskar Angkling Darmo” ini pada tahun 2016 memiliki APBD sebesar Rp3,6 triliun, yang merupakan terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya, mengalahkan Malang, Sidoarjo dan Gresik. Adapun pada tahun 2015, realisasi APBD Bojonegoro mencapai Rp2,8 triliun, dengan rincian dana bagi hasil yang berhubungan terkait migas mencapai Rp842 miliar  atau sebesar 30 persen dari total APBD. Jika dihitung berdasarkan dana transfer pemerintah pusat ke Bojonegoro (termasuk DAU dll) totalnya mencapai  Rp1,958 triliun atau sebesar 65,3 persen. Nampak ketergantungan APBD Bojonegoro pada transfer dana dari pusat dengan kontribusi PAD hanya sebesar R 337 miliar atau 11,23 persen. 

Melimpahnya anggaran daerah tidak berimbas pada perbaikan ekonomi masyarakat. Pada tahun 2015 angka kemiskinan di Bojonegoro justru naik menjadi 15,71 persen dibandingkan tahun 2014 sebesar 15,48 persen. Angka ini jauh di atas angka kemiskinan nasional. Imbasnya adalah Kabupaten Bojonegoro masuk peringkat 9 Kabupaten paling miskin di Jawa Timur, dari 29 Kabupaten dan 9 Kota. 

Ironi Bojonegoro

Bojonegoro perlu terobosan dalam memanfaatkan APBD, selain mengentaskan kemiskinan dalam jangka pendek. Juga bagaimana menciptakan multiplier effect yang berkesinambungan, sehingga pada saat kontribusi minyak habis, sudah mampu menciptakan kemandirian ekonomi di Bojonegoro. Selain mengincar dana bagi hasil minyak, ada baiknya pelaksanaan CSR didorong untuk lebih memberdayakan ekonomi masyarakat Bojonegoro. Sentuhan CSR selama ini masih pada taraf "charity" dan belum dimanfaatkan untuk bisa mendorong ekonomi masyarakat sehingga keluar dari kemiskinan.

Dari sisi dana pendidikan, Bojonegoro sebenarnya mengalokasikan dana yang cukup besar. Pada tahun 2016 total anggaran Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro mencapai Rp 907,8 miliar atau sudah mencapai 25% dari total APBD, melebihi amanat konstitusi sebesar 20%. 

Sayangnya, porsi anggaran terbesar di dinas pendidikan Bojonegoro untuk belanja gaji yang mencapai Rp 834 miliar atau sekitar 92 persen dari keseluruhan anggaran. Akibatnya alokasi belanja langsung pendidikan hanya sekitar Rp73,8 miliar. Tentu untuk Kabupaten yang memiliki luas wilayah nomor 4 di Jawa Timur dengan jumlah penduduk 1.249.578 dan siswa pendidikan SD sd SMA yang sederajat sebanyak 234.160 orang, maka anggaran langsung sektor pendidikan sangat minim. Akibatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Bojonegoro termasuk rendah dibandingkan rata-rata nasional. IPM Bojonegoro di tahun 2015 sebesar 66,17 persen, sedangkan IPM rata-rata nasional mencapai 69,55 persen. 

Selain itu, sebagai daerah penghasil minyak terbesar, mestinya Bojonegoro mampu meningkatkan kualitas pendidikan tidak sebatas tingkat SMA,  tetapi juga memiliki perguruan tinggi yang berkualitas, dengan kompetensi di sektor minyak. Tidak ada salahnya belajar pada Kabupaten Banyuwangi yang pada tahun 2014 mampu menggandeng Universitas Airlangga (UNAIR) untuk mendirikan cabang di Banyuwangi dengan membuka jurusan yang terkait dengan potensi kabupaten tersebut yaitu Kedokteran Hewan, Akuntansi, Kesehatan Masyarakat, dan Budidaya Perairan. 

Bojonegoro harus mampu menggandeng ITB, ITS maupun Tri Sakti untuk membuka cabang di Bojonegoro dengan fokus pada jurusan yang terkait dengan pertambangan, perminyakan agar seiring dengan hilirisasi produk migas yang direncanakan dibangun Pertamina di Tuban yang akan mendorong tumbuhnya industri petrochemical di Tuban dan Bojonegoro, maka SDM di Kota Ledre tersebut dapat berkiprah lebih baik yang tentunya akan memberikan sumbangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan IPM di Bojonegoro. 

Reformasi birokrasi dan tata kelola Pemerintahan Bojonegoro sudah membaik, dengan diberikannya Bupati Bojonegoro Suyoto sebagai salah satu kepala daerah terbaik versi salah satu media nasional. Namun masih banyak pekerjaan rumah di Bojonegoro untuk yang bersifat layanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Puncak kejayaan sebagai Kabupaten Petro Dollar tidak berlangsung lama, mesti segera melakukan perubahan yang fundamental dalam membangun Bojonegoro. 

Selamat Datang Lagi, Nokia!

Selamat Datang Lagi, Nokia!

Selamat Datang Lagi, Nokia!
Ilustrasi Nokia. REUTERS
12 Januari, 2017dibaca normal 3 menit
Setelah sempat menjadi ponsel sejuta umat, lalu akhirnya terpuruk cukup lama. Kini, Nokia kembali ke kancah pasar ponsel pintar yang sudah penuh sesak, dengan mengusung Android 7.0 Nougat. Bagaimana peluang Nokia?
tirto.id - Di penghujung 2016, beberapa kejutan di bidang teknologi komunikasi dan informasi bermunculan. Dimulai dari keputusan Google untuk mengakhiri seri Nexus, hingga kabar kembalinya Nokia di kancah pasar ponsel pintar yang sudah penuh sesak.

Kembalinya Nokia sebagai merek yang sempat popular di era 1990-an ini cukup dinanti. Sebagai bukti tingginya popularitas Nokia, ponsel Nokia 216 yang notabene hanya ponsel dengan fitur sederhana, justru ramai dibicarakan saat peluncuran globalnya--termasuk di Indonesia beberapa saat lalu.

Peluncuran seri 216 akhir tahun lalu bisa jadi sebagai pembuktian bagi Nokia. Ada atau tidaknya pengaruh nama Nokia di segmen ponsel bisa dilihat dari sana. Melihat animo pemberitaan yang tinggi, wajar jika HMD Global, sebagai perusahaan yang kini memiliki hak atas nama Nokia, semakin percaya diri untuk meluncurkan sekaligus dua buah ponsel pintar di 2017.

Penantian usai, seri pertama sudah resmi diperkenalkan. Bertajuk Nokia 6, ponsel yang mengusung Android 7.0 Nougat ini dijual eksklusif di toko online paling popular di Cina, JD.com. Harganya dibanderol 1699 Yuan (Rp3,2 juta), ponsel ini memang tidak menyasar Galaxy S7 Edge, iPhone 7, maupun LG V20 sebagai pesaing. Spesifikasinya yang cenderung bermain di pasar menengah memang tak bisa dianggap remeh. Jangan lupa, nama ‘Nokia’ sebagai merrk masih sangat menjual sehingga harga yang ditawarkan terbilang sangat bersaing. 

Dalam keterangan resminya, HMD Global mengatakan Nokia 6 sebagai ponsel pintar yang memiliki kombinasi kualitas dan ketahanan yang tinggi serta sanggup menawarkan pengalaman menggunakan ponsel premium, tapi dengan harga yang sangat menarik untuk konsumen Cina.

Sama seperti peluncuran Nokia 216, peluncuran Nokia 6 ini juga disinyalir menjadi pertaruhan awal Nokia sebelum masuk ke pasar yang lebih luas di luar Cina. Jika sukses meraih animo pasar dan bagus dari segi penjualan, Nokia dipastikan siap meluncurkan ponsel gawai pintar berikutnya.

Di era 1990-an, selain Nokia, ada nama lain yang enggan ‘pensiun’ dari dunia teknologi,  yakni Motorola. Bersama Nokia dan Ericsson, Motorola juga merupakan pemimpin pasar, bahkan pionir untuk telepon seluler. Kisah Motorola sedikit banyak mirip dengan Nokia. Sempat dibeli oleh Google, Motorola kini ditangani oleh Lenovo. Jika dibandingkan, Nokia juga sempat dipegang oleh raksasa teknologi sekelas Google yakni Microsoft sebelum kini dipegang HMD Global.

Bedanya, HMD Global tidak sendirian, karena untuk membawa Nokia kembali ke papan atas, ia dibantu oleh Foxconn Technology Group dan anak perusahaannya, FIH Mobile. Nama yang terakhir inilah yang sukses membeli aktiva-aktiva teknologi ponsel fitur dari Microsoft, termasuk di dalamnya adalah sebuah pabrik perakitan ponsel yang dimiliki Microsoft Mobile Vietnam. Duet HMD Global dan Foxconn inilah yang akan menentukan nasib Nokia di 2017 ini.

Selamat Datang Lagi, Nokia!

Pelajaran Masa Lalu

Perlu diingat bahwa Nokia 6 bukanlah ponsel Nokia pertama yang mengusung Android. Pada  2014, Nokia sempat mencoba meraih pasar Android dengan meluncurkan Nokia X series. Sayangnya, arogansi Nokia saat itu masih sangat tinggi. Android yang digunakan bukanlah versi yang didukung oleh Google Play services sehingga aplikasi-aplikasi bawaan Google diganti dengan aplikasi hasil kreasi Nokia serta dari pihak ketiga.

Ketiadaan Google Play membuat ponsel tersebut seperti pincang. Apalagi spesifikasi ponsel Nokia X terbilang rendah dan banyaknya kustomisasi yang dilakukan Nokia membuat ponsel tersebut semakin kekurangan tenaga. Tak sampai enam bulan sejak peluncurannya, divisi Nokia X Project terpaksa ditutup. CEO Microsoft Satya Nadella memastikan hal tersebut bersamaan dengan pemutusan hubungan kerja besar-besaran.

Jika dibandingkan, langkah Nokia saat itu tidak bisa dibilang salah. Amazon contohnya, perusahaan toko ritel online tersebut tergolong sukses dengan seri ponsel dan tablet Amazon Fire. Sama-sama mengusung Android tanpa Google Play services, seri Amazon Fire mendulang kesuksesan--setidaknya sampai 2015, yang dibuktikan dengan 14 seri yang diluncurkan dalam waktu 2011-2015.

Bedanya dengan Nokia, Amazon sudah lebih dulu siap dengan Amazon AppStore. Kesiapan tersebut tak hanya sekadar menyiapkan platform bagi para developer untuk menjual aplikasi mereka, tapi juga kemampuan porting layanan Google yang tidak tersedia untuk digantikan dengan layanan sejenis. Tak lupa dari segi harga, seri Amazon Fire ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Berbeda dengan seri Nokia X yang memang dijual murah lantaran spesifikasinya yang rendah.

Bagaimana dengan nasib Nokia 6? ponsel yang baru beredar di Cina ini memang tak perlu mengusung Google Play services. Merek-merek lain seperti OnePlus dan Xiaomi juga menawarkan versi ponsel tanpa Google Play services untuk seri yang dijual di Cina. Blokir layanan Google oleh pemerintah Cina merupakan alasan utama. Namun, besar kemungkinan Nokia akan mengusung Google Play services ketika dijual di negara lain sehingga satu kesalahan dari masa lalu bisa diperbaiki.

Di masa silam, kepercayaan Nokia pada layanan yang dimiliki bukan tanpa alasan. Layanan Google yang hilang pada Nokia X diyakini bisa diganti oleh aplikasi lain seperti Nokia Here Maps untuk menggantikan Google Maps. Kepercayaan diri tersebut juga diperkuat oleh keinginan memiliki sesuatu yang beda dengan ponsel Android dari kompetitor.

Kali ini, Nokia 6 memiliki sesuatu yang berbeda yakni Viki. Layanan asisten digital berbasis kecerdasan buatan ini disinyalir akan menjadi pembeda ponsel Nokia 6 dan seterusnya. Langkah yang cukup tepat meskipun sangat berisiko, terutama mengingat minimnya informasi mengenai Viki dan kemampuan sebenarnya untuk dapat terintegrasi dengan layanan lain belum teruji.

Persaingan di asisten digital memang masih berlangsung. Google memiliki Google Now yang tertanam di semua gawai pintar Android--termasuk Android TV, Android Wear, dan Chrome OS; Apple dengan Siri; Microsoft dengan Cortana; Samsung dengan Bixby--yang menggantikan S-Voice; dan Amazon yang kini juga bersama Huawei dengan Alexa.

Kehadiran Viki di ponsel Nokia menjadi penentu, terutama karena HERE Maps sudah lama lepas dari Nokia dan kini menjadi milik BMW, Audi, dan Daimler. Otomatis, selain nama Nokia, Viki menjadi satu-satunya pembeda yang diharapkan menjadi daya tarik baru untuk calon konsumen. Nokia memang selalu ditunggu, namun informasi lengkapnya baru akan terkuak pada Mobile World Congress 2017 pada akhir Februari nanti. Kita tunggu saja.